Tentang Kami

Kenal Lebih Dekat Dengan Desa Adat

Desa adat Bali adalah komunitas tradisional di pulau Bali yang memegang teguh nilai-nilai budaya, agama, dan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. Desa adat ini merupakan wujud nyata dari kebudayaan Bali yang kaya dan unik, di mana masyarakatnya hidup dalam harmonisasi dengan alam, spiritualitas, dan kehidupan sosial.Ciri-Ciri Desa Adat Bali:Struktur Pemerintahan Adat: Desa adat memiliki struktur pemerintahan tersendiri yang dipimpin oleh seorang bendesa adat atau kepala desa adat. Pemerintahan adat ini mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari upacara keagamaan, kegiatan sosial, hingga penyelesaian sengketa.Adat dan Upacara: Masyarakat desa adat Bali sangat menjunjung tinggi tradisi dan upacara adat yang beragam, seperti upacara Ngaben (pembakaran jenazah), Galungan, Kuningan, dan berbagai ritual lainnya yang berkaitan dengan siklus kehidupan dan keagamaan Hindu Bali.Arsitektur dan Lingkungan: Desa adat Bali seringkali memiliki arsitektur tradisional yang khas, dengan rumah-rumah yang dibangun mengikuti aturan tertentu dan dihiasi dengan ukiran-ukiran yang indah. Desa ini juga biasanya dikelilingi oleh pemandangan alam yang asri, seperti sawah, hutan, atau pantai.Gotong Royong: Prinsip gotong royong sangat dijunjung tinggi di desa adat Bali. Masyarakatnya sering bekerja bersama dalam berbagai kegiatan, seperti membangun fasilitas umum, mengadakan upacara, dan menjaga kebersihan lingkungan.Subak: Sistem irigasi tradisional yang dikenal sebagai subak merupakan salah satu keunikan desa adat Bali. Subak tidak hanya mengatur distribusi air untuk pertanian tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial yang mengikat komunitas petani.Contoh Desa Adat Bali yang Terkenal:Desa Penglipuran: Terletak di Kabupaten Bangli, Desa Penglipuran dikenal karena keindahan tata letak desanya yang bersih dan rapi, serta suasana yang asri dan tenang. Desa ini juga mempertahankan arsitektur tradisional Bali.Desa Tenganan: Berlokasi di Kabupaten Karangasem, Desa Tenganan merupakan salah satu desa Bali Aga (Bali asli) yang masih mempertahankan berbagai tradisi kuno, seperti pembuatan kain gringsing yang unik.Desa Trunyan: Terkenal dengan tradisi pemakaman unik di mana jenazah tidak dikubur melainkan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan yang diyakini dapat menghilangkan bau jenazah.Desa adat Bali menjadi destinasi wisata budaya yang menarik, di mana wisatawan dapat belajar dan merasakan langsung kehidupan tradisional masyarakat Bali. Keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang terpancar dari kehidupan di desa adat Bali menjadi daya tarik tersendiri yang memikat hati banyak orang.

Selengkapnya
Peta Lokasi

Sebaran Desa Adat di Bali

Desa Adat

Daftar Desa Adat

Potensi Wisata

Potensi Wisata Populer

Berita

Berita Desa Adat

Image
2024-07-02 Informasi
Desa Adat Jadi Benteng Sosial dan Budaya Bali Hadapi Tantangan Global

Penulis : Admin

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali mengatur keberadaan desa adat dan subak di Bali. Desa adat sebagai kesatuan masyarakat hukum adat di Bali menjadi benteng sosial dan budaya bagi masyarakat Bali dalam menghadapi perubahan dan tantangan global.Dalam diskusi perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-31 Yayasan Wisnu, Sabtu (25/5/2024), di Geo Open Space, Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, pembina Yayasan Wisnu I Made Suarnatha mengatakan, Bali merupakan pulau kecil, yang memiliki keterbatasan alami, termasuk sumber daya alamnya. Di sisi lain, industri pariwisata yang dikembangkan di Bali membutuhkan pasokan sumber daya yang masif.”Kondisi ini akhirnya menimbulkan konflik kepentingan yang memengaruhi eksistensi ruang kehidupan masyarakat di pulau kecil, yang mempunyai keterbatasan ini,” kata Suarnatha.Selain Suarnatha, hadir sebagai narasumber dalam diskusi itu, antara lain, pembina Yayasan Wisnu, Diah Suradiredja; pengelola ekowisata Desa Plaga (Badung) I Gede Wiratha; dan perwakilan Desa Adat Tenganan Pegringsingan I Putu Wiadnyana dengan pemandu diskusi Dony Hendro Cahyono.Lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Bali, Yayasan Wisnu, menggelar diskusi serangkaian perayaan HUT Ke-31 Yayasan Wisnu di Kuta Utara, Badung, Minggu (25/5/2024). Penyelenggara menghadirkan empat narasumber dalam diskusi, antara lain, pembina Yayasan Wisnu I Made Suarnatha (kedua dari kiri) dan pembina Yayasan Wisnu Diah Suradiredja (kedua dari kanan).Yayasan Wisnu adalah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan Suarnatha bersama sejumlah akademisi, pemerhati lingkungan, dan pemerhati budaya pada 1993 sebagai respons terhadap permasalahan lingkungan di Bali. Yayasan Wisnu kemudian fokus pada pengelolaan lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat.Desa adat menguasai seluruh lahan desa, termasuk kawasan hutan desa adat dan lahan persawahan.Dalam diskusi, Putu Wiadnyana mengatakan, Desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah satu dari sejumlah desa adat tua di Bali. Sedari dahulu, menurut Wiadnyana, warga Tenganan Pegringsingan mematuhi dan mengikuti peraturan desa (awig-awig), yang diwariskan dan disepakati bersama.”Kemandirian sosial desa adat di Tenganan Pegringsingan juga terkait tata pemerintahan dimana prajuru (pengurus) desa tidak dipilih, tetapi bergantian sesuai urutan,” kata Wiadnyana.Warga desa adat di Tenganan Pegringsingan menganut prinsip komunal. Desa adat menguasai seluruh lahan desa, termasuk kawasan hutan desa adat dan lahan persawahan.Wiadnyana menambahkan, peraturan desa adat itu juga melarang lahan desa adat dijual dan tidak mengizinkan orang luar desa adat setempat untuk membeli lahan milik desa adat. ”Tanah desa adat disepakati menjadi milik komunal,” katanya.Lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Bali, Yayasan Wisnu, menggelar perayaan HUT Ke-31 Yayasan Wisnu di Kuta Utara, Badung, Minggu (25/5/2024). Penyelenggara menghadirkan beraneka hasil olahan masyarakat desa mitra Yayasan Wisnu dalam perayaan 31 tahun Yayasan Wisnu.Dengan sistem yang diwariskan secara turun-temurun itu, menurut Wiadnyana, Tenganan Pegringsingan masih lestari dan bertahan. Desa Tenganan Pegringsingan mampu memenuhi kebutuhan dasar warga desanya, termasuk kebutuhan pangan.Warga Tenganan Pegringsingan juga mendapatkan pasokan air dari sumber mata air yang dikelola desa adat melalui badan usaha milik desa adat. Wiadnyana mengungkapkan, sumber mata air yang berada di wilayah Tenganan Pegringsingan dapat dipertahankan warga hingga sekarang meskipun pernah diminta agar dikelola perusahaan daerah air minum.Adapun keberadaan desa adat di Bali mendapatkan legitimasi dalam UU No 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali, terutama pada Pasal 6 UU No 15 Tahun 2023. Selain diakui dan disahkan berdasarkan undang-undang, desa adat di Bali juga diatur secara khusus dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali No 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali.Lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Bali, Yayasan Wisnu, menggelar perayaan HUT Ke-31 Yayasan Wisnu di Kuta Utara, Badung, Minggu (25/5/2024). Penyelenggara menghadirkan beraneka hasil olahan masyarakat desa mitra Yayasan Wisnu dalam perayaan 31 tahun Yayasan Wisnu.Ketua Yayasan Abdi Bumi I Made Iwan Dewantama mengomentari perihal pengelolaan air. Menurut Iwan, masyarakat atau publik berkepentingan terhadap air sehingga publik seharusnya dilibatkan dalam kebijakan pengelolaan air. Iwan juga menyinggung pelaksanaan Forum Air Sedunia (WWF) di Bali, yang dinilai minim melibatkan partisipasi publik.”Saya menangkap kesan forum WWF lebih privatisasi,” kata Iwan dalam diskusi merayakan HUT Ke-31 Yayasan Wisnu itu.Menurut Diah Suradiredja, privatisasi berkembang karena infrastruktur pasar yang ada dan dibangun serta disiapkan memang untuk kepentingan kelompok privat. Kalangan akademisi di Universitas Gadjah Mada sejak 2019 mendorong penguatan badan usaha milik desa (BUMDes).Salah satu tujuan BUMDes adalah menyejahterakan masyarakat desa. Diah mengatakan, komunitas masyarakat desa, termasuk desa adat, harus diberdayakan demi kepentingan masyarakatSumber : link

Image
2024-07-02 Informasi
5 DESA ADAT WISATA DI BALI YANG WAJIB KAMU KUNJUNGI

Penulis : Admin

Kebudayaan masyarakat Bali kerap menarik perhatian wisatawan karena masih kental dan tidak terkikis zaman modern.Saat berkunjung ke sana, desa adat atau desa wisata pun kerap dikunjungi oleh wisatawan untuk melihat kebudayaan dan kehidupan masyarakat setempat.“Sampai hari ini yang mendunia masih Penglipuran, dalam konteks budaya disamping jadi desa wisata,” kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali, I Nyoman Nuarta, kepada Kompas.com, Rabu (9/9/2020).Selain Desa Penglipuran, Nyoman menuturkan masih ada beberapa desa wisata yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Apa saja?1. Desa PenglipuranDesa Penglipuran yang berisi masyarakat Bali Mula terletak di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli. Tepatnya di dataran tinggi sekitar kaki Gunung Batur.Ketika menginjakkan kaki ke sana, wisatawan akan merasakan suasana yang tenang dan asri dari desa yang asal kata namanya berasal dari “Pengeling Pura”. Makanya adalah tempat suci untuk mengenang para leluhur.Tidak hanya udaranya yang sejuk, bentuk bangunan setiap rumah yang seragam dan saling terhubung melalui lorong menarik perhatian masyarakat.Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat di sana hidup berdampingan secara harmonis. Jika berkunjung ke sana, wisatawan bisa mempelajari aturan adat, tradisi unik, dan banyak acara ritual termasuk Galungan.Salah satu aturan adat yang berlaku di sana adalah larangan bagi pria untuk memiliki istri lebih dari satu. Jika melanggar, mereka akan dikucilkan di sebuah tempat bernama Karang Memadu.Apabila ingin mempelajari aturan adat lain lebih lanjut, kamu bisa menginap di sejumlah homestay yang telah disediakan sambil menikmati jajanan khas Bali bernama Sueg yang terbuat dari umbi.Untuk masuk ke area Desa Penglipuran, wisatawan harus menaruh kendaraan roda dua atau roda empat di lahan parkir yang telah disediakan.2. Desa Tigawasadok. Akun YouTube Yuk Ke Buleleng Tangkapan layar gardu pandang yang ada di Kubu Alam, Desa Tigawasa, Kabupaten Buleleng, Bali.Desa masyarakat Bali Mula ini berlokasi di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Letaknya berada di ketinggian sekitar 500-700 meter dari permukaan laut (mdpl).Saat berkunjung ke sana, wisatawan bisa melihat banyak sekali perkebunan dan sawah yang masih asri. Kamu bisa menikmati pemandangan tersebut sambil menikmati sejuknya udara di Kubu Alam.Kubu Alam merupakan sebuah tempat bersinggah masyarakat yang melintasi jalur Desa Tigawasa dari arah Denpasar-Singaraja dan sebaliknya.Pengunjung bisa menikmati kopi robusta yang dipetik langsung dari kebun para petani setempat sambil melihat pemandangan perbukitan dari gardu pandang yang terbuat dari bambu.Usai menikmati pemandangan, kamu bisa menjelajahi salah satu desa tua di Buleleng tersebut dan berinteraksi dengan masyarakat setempat sambil mempelajari budaya, tradisi, dan adat istiadat yang ada.Salah satu tradisi unik khas Desa Tigawasa adalah tidak adanya pembakaran mayat dalam Upacara Ngaben. Mayat akan dikubur dan dibungkus menggunakan kain batik.Sembari berkunjung, jangan lupa untuk membeli kerajinan anyaman bambu berupa sokasi dan bedeg.“Wisatawan bisa lihat kegiatan masyarakat lokal yang masih berpedoman pada adat istiadat yang berlaku dari dulu, belum terkontaminasi terlalu banyak oleh digital,” ungkap Nyoman.3. Desa SidatapaDesa Sidatapa juga merupakan salah satu desa tua di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Desa ini terletak di ketinggian sekitar 450 mdpl.Selain bisa mempelajari sejarah dan kebudayaan setempat, wisatawan bisa melihat rumah adat kuno bernama Bale Gajah Tumpang Salu yang sudah ada sejak sekitar 785 M.Rumah tersebut terbilang cukup unik karena bangunannya membelakangi jalan, tembok terbuat dari tanah, dan 12 tiang penyangganya menggunakan kayu.Bale Gajah Tumpang Salu memiliki beberapa bagian di dalamnya, disebut Tri Mandala, yang memiliki fungsi tersendiri seperti untuk kegiatan sehari-hari atau tempat untuk bersembahyang.Saat berada di sana, wisatawan juga bisa membeli kerajinan anyaman bambu, serta melihat tarian dan ritual khas Desa Sidatapa.Ada juga tempat wisata Air Terjun Mampah yang terletak sekitar 2 km dari desa. Air terjun tersebut terletak di tengah hutan dan dikelilingi oleh pepohonan yang masih asri.Tidak hanya wisatawan bisa belajar sejarah, ritual, dan adat Desa Sidatapa, mereka juga bisa melakukan wisata alam selagi di sana.4. Desa Cempaga Desa Cempaga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng merupakan salah satu desa tua yang memiliki sejarah, kebudayaan, tradisi, dan tarian sakral.Beberapa tarian yang bisa dilihat di sana adalah tari jangkang, tari baris, tari pendet, dan tari rejang. Biasanya, tarian sakral akan dilakukan di Pura Desa Cempaga. Wisatawan bisa melihatnya saat berkunjung ke sana dalam waktu-waktu tertentu.Selanjutnya ada juga Upacara Mecacar yang dilakukan di pura sekitar pukul 01:00 WITA pada Upacara Galungan, Upacara Kuningan, dan Karya Agung Muayon.Desa Cempaga memiliki alam yang masih asri dan bersih. Udaranya pun sejuk lantaran desa terletak di dataran tinggi.Sembari menikmati pemandangan tersebut, kamu bisa berkunjung ke Sunset Hill Restaurant yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Cempaga.“Desa Tigawasa, Desa Sidatapa, dan Desa Cempaga adalah tiga kawasan yang merupakan Bali Mula. Mereka destinasi yang sedang diangkat,” tutur Nyoman.5. Desa TengananDesa Tenganan berlokasi di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Desa ini masih mempertahankan rumah dan adat yang sudah ada sejak dulu kala.Hal ini karena masyarakat desa memiliki aturan adat yang sangat kuat yang disebut dengan awig-awig. Aturan adata tersebut sudah ada sejak abad ke-11, dan diperbarui pada 1842.Deretan rumah adat yang masih dipertahankan merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun sebelum bisa masuk ke sana, wisatawan tidak membeli karcis namun memberi sumbangan seikhlasnya.Lingkungan Desa Tenganan masih sangat terjaga. Banyak sawah dan tanaman masih terlihat asri. Kerbau milik warga pun bebas berkeliaran di pekarangan rumah.Sembari mempelajari sejarah, budaya, adat, menikmati keindahan rumah adat dan nuansa lingkungannya yang tenang, kamu bisa berkunjung ke toko oleh-oleh yang menjual banyak kerajinan Desa Tenganan.Toko tersebut menjual berbagai jenis kerajinan mulai dari anyaman bambu, ukiran, lukisan yang diukir di atas daun lontas yang sudah dibakar, serta kain geringsing.“Tenganan sangat terkenal terkait pembuatan kain geringsing,” kata Nyoman.Kain yang hanya diproduksi di Desa Tenganan dibuat menggunakan tangan. Waktu pembuatan yang lama dan warna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan membuatnya menjadi buah tangan yang wajib dibawa pulang.sumber : link